Burok, Seni Tradisi yang Tersisih
Bagi warga Cirebon dan sekitarnya, seni tradisi Burok pasti sudah tidak asing lagi. Namun, tidak seua warga tahu kalau seni pertunjukan burok yang berkembang saat ini sudah jauh berubah dari aslinya. Menurut Untung, pimpinan rombongan seni Burok “Mawar Merah” Kelurahan Kesunean, Kota Cirebon, perubahan terjadi karena sejumlah upaya modifikasi, dengan mengadopsi sejumlah unsur budaya lainnya. Upaya modifikasi tersebut terpaksa dilakukan agar seni tradisi burok tidak tersisih oleh seni pertunjukan lain yang lebih modern.
“Kalau kami tidak melakukan modifikasi, seni burok pasti sudah tersisih, bahkan punah,” katanya seusai menggelar pertunjukan Burok di acara syukuran khitanan Kamajaya di Kompleks Ciremai Giri Blok, Kalijaga, Sabtu (27/08/2016).
Untung mengungkapkan, sudah sekitar sepuluh tahun grup seni burok yang dipimpinnya mengadopsi sejumlah unsur budaya lain, untuk menyemarakkan pertunjukan. “Awal tahun 1990-an, seni burok sudah jarang yang menanggap. Namun, sejak kami melakukan sejumlah kreativitas dengan mengadopsi sejumlah budaya lain, seni burok mulai kembali banyak yang manggil,” katanya.
Modifikasi yang dilakukan yakni penambahan badawang (boneka dengan ukuran besar) pengiring burok (wujud kuda bersayap dengan kepala putri cantik berkerudung). Seni Burok yang asli hanya berupa arak-arakan figur utama badawang burok, ditambah badawang pengiring dengan wujud sejumlah binatang seperti macan, gajah, dan lain-lain, dengan iringan musik pengiring.
Saat ini dalam rombongan ditambahkan pula barongsai, sisingaan, dan replika kereta kenana singa barong. Sisingaan mengadopsi dari seni traisi Subang, sedangkan barongsai mengadopsi seni dari Tiongkok.Taring
Dulu musik pengiring adalah musik genjring dog-dog. Namun, saat ini karena perkembangan zaman dan permintaan konsumen, musik pengiring adalah tarling dengan sejumlah penyanyi perempuan. Sebelum arak-arakan, pergelaran dibuka dengan pertunjukan kuda lumping, dan sejumlah tarian.
Seusai arak-arakan, pertunjukan dilanjut dengan akrobat, sulap, bahkan drama pertempuran antara tokoh legenda dari Tiongkok, kera sakti Sun Go Kong dengan barongsai, yang dimenangkan Sun Go Kong.
Terelpas dari semua perubahan seni burok yang tidak lagi asli, Ina Katharina mengungkapkan, ia sengaja mengundang rombongan seni burok di acara syukuran khitan anaknya, karena karena ingin mengenalkan seni traadisi Cirebon kepada anaknya.
“Kebetulan Kama (anak Ina Katharina, pen) sendiri juga minta, jadi ya klop keinginan kami, katanya. (Ani Nunung/”PR”)***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar